.BlackBerry-Icon { width: 10px; height: 10px; } .icon { display: inline-block; float: left }
SELAMAT DATANG DI OFFICIAL WEBSITE KRIPIK LUMBA LUMBA, UNTUK INFO & ORDER SILAHKAN HUB. WA. 0823 3824 7777



Owner Pabrik Keripik Lumba Lumba Pernah Sumbang 2M Untuk Mesjid.

Keripik Lumba Lumba -  Owner Pabrik Keripik Lumba Lumba Pernah Sumbang 2M Untuk Mesjid.

Sucipto menunjukkan keripik singkong di pabrik miliknya, Desa Talok, Kecamatan Turen.


Bangunan pabrik keripik cap Lumba-Lumba itu berdiri kokoh di lahan seluas satu hektare, Desa Talok, Kecamatan Turen. Pada bagian depan halaman pabrik itu, sebuah monumen lumba-lumba setinggi dua meter berdiri kokoh.

Di wilayah Malang Raya, bahkan mungkin di Jawa Timur, pabrik keripik singkong milik Sucipto ini barangkali menjadi yang terbesar. Kapasitas produksinya saat ini mencapai tiga ton per hari. Tapi, jauh sebelum menjadi pengusaha besar seperti sekarang ini, Sucipto pernah hidup sangat miskin.

Lumba-lumba itu seolah-olah menjadi hewan yang sakral di mata sang pemilik pabrik. ”Penggunaan nama itu berawal dari pengalaman saya saat berada di Pantai Ngliyep pada 1998 silam. Waktu itu, saya melihat ada sekawanan lumba-lumba yang bergerak dari timur ke barat,” ujar Sucipto, sambil mencoba mengingat-ingat lagi memori dua dekade lalu.

Meski begitu, usaha untuk memulai bisnis keripik singkong belum dia lakukan pada tahun tersebut. Kala itu, kehidupan Sucipto belum seperti sekarang. Sucipto mengais rezeki dengan menjalani pekerjaan kasar. Mulai dari menjadi buruh tani hingga kuli batu. Pekerjaan kasar itu dia lakoni sejak 1986.

Dari pekerjaan tersebut, Sucipto bisa memiliki tabungan sebesar Rp 90 juta pada 1997. Tapi, alih-alih menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun guna modal usaha, Sucipto malah ”membuangnya”.

”Saya mendapatkan petunjuk lewat mimpi. Dalam mimpi itu, saya diminta untuk membersihkan semua harta saya. Bahkan, istri saya juga bermimpi serupa,” ujarnya.

Bukan hanya uang Rp 90 juta, Sucipto juga memberikan seluruh benda yang dia miliki untuk fakir miskin. ”Kami lantas tinggal di rumah mertua. Untuk tidur, kami hanya menggunakan alas tikar,” kata pria yang sempat meramaikan penjaringan calon Bupati Malang dari PDIP pada 2014 lalu itu.

Sementara untuk menyambung hidup, Sucipto memilih untuk bekerja sebagai kuli batu dan buruh tani. Pekerjaan itu dia lakoni selama lima tahun.

Hingga akhirnya, pada 2001 silam, Sucipto mendapatkan ide untuk membuka usaha pembuatan keripik. Tekadnya bulat, meski dia tak memiliki cukup uang untuk memulai sebuah usaha.

Solusinya adalah pinjam sana-pinjam sini. ”Saya ngebon (utang) bahan baku singkong dari petani. Minyaknya ngebon dari toko. Wajan penggorengannya juga pinjam kepada saudara,” kata pria 51 tahun ini.

Tak hanya itu, Sucipto juga membuat sendiri alat pemotong singkong. Dia memanfaatkan gergaji kayu bekas dan dinamo dari pompa air. Dengan alat sederhana buatannya itu, Sucipto bisa memotong singkong menjadi bagian-bagian yang tipis.

Pada tahap awal merintis usaha, Sucipto dibantu beberapa orang tetangganya. Butuh waktu tiga hari untuk menghasilkan keripik singkong.

Keripik-keripik singkong yang awalnya tanpa merek itu dipasarkan sendiri oleh Sucipto. Door to door, keliling kampung. ”Alhamdulillah, dalam waktu sekitar dua jam, barang dagangan saya terjual habis,” ujarnya.

Dari situlah, Sucipto seolah-olah melihat secercah harapan dari bisnis yang baru dia rintis itu. Apalagi, dengan berkeliling kampung, Sucipto mendapatkan relasi-relasi baru dari pedagang yang siap membantu pemasaran produknya.

Bisnis itu terus berkembang. Sucipto pun mulai berpikir soal brand saat ada pihak dari dinas kesehatan yang mendatangi pabriknya pada 2004 silam. ”Ketika mencari merek apa yang cocok. Saya teringat dengan momen saat melihat sekawanan lumba-lumba di Pantai Ngliyep,” kata pria kelahiran 29 Agustus 1965 tersebut.

Kini, usaha keripik cap Lumba-Lumba itu berkembang besar hingga memiliki 187 pegawai. Setiap hari, pabrik milik Sucipto itu rata-rata memproduksi tiga ton keripik. Dua ton di antaranya adalah keripik singkong. Sementara satu ton lainnya keripik pisang.

Pemasarannya tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Setelah berhasil mengembangkan usaha keripik singkong sampai sebesar sekarang, Sucipto tak lupa menyisihkan pendapatan yang dia terima untuk sedekah.

Selama delapan tahun, terhitung sejak 2009 hingga sekarang, Sucipto sudah mengeluarkan Rp 2 miliar untuk membangun Masjid Ageng Raden Bagus di seberang rumahnya. Proses pembangunan masjid seluas 832 meter persegi itu masih terus berlangsung.

Tak hanya masjid, Sucipto juga memiliki andil dalam pengembangan kawasan Candi Jawar di Dusun Kaliputih, Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampelgading. Di sana, dia membangun sebuah pendapa. ”Tujuannya, supaya pengunjung bisa berteduh saat cuacanya panas maupun ketika turun hujan,” kata bapak empat anak ini.

Kemudian, pada 2012 lalu, dia juga mengeluarkan uang Rp 175 juta untuk membangun PAUD-TK Raden Bagus di Talok, Turen. Lalu, Sucipto juga membeli lahan seluas 9 hektare di Gunung Prekul, Desa Gedangan, dan membeli lahan seluas 5 hektare di kawasan Gunung Putri, Dampit. Lahan berhektare-hektare itu sengaja dia beli untuk reboisasi (penanaman kembali hutan yang telah ditebang). (Keripik Lumba Lumba)


Tag : Keripik Lumba Lumba, Kripik Lumba Lumba, Keripik Singkong Lumba Lumba, Kripik Pisang Lumba Lumba, Oleh Oleh Khas Malang


***



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TOMBOL OTOMATIS

INFORMASI KONTAK :

ALAMAT :

Keripik Singkong & Pisang
Cap Lumba Lumba
Jln Mentaraman gang 7 Talok
Turen, Malang 65175,
Jawa Timur
Indonesia


Kontak Person
Tn. MISDIANTO
[Pemasaran]


lumbalumba02@yahoo.com


PIN BB 5AEF4953


0823 3824 7777


0823 3824 7777


VISITOR COUNTER




Postingan Populer


Membuat Web Langsung Jadi ? INDO9.COM